Selasa, 01 Maret 2016

Psikoterapi (pendekatan konvensional dan kontemporer) Analisis Transaksional


Transaksional analisis
1.         Pengantar
   Eric berne (1910-1970) seorang psikiatris dan psikoanalis, mengembangkan teori analisis transaksional padea tahun 1950-an. Yang pada intinya dia menemukan tentang ego state sebagai fase pertama perkembangan analisis transaksional.
   Pada fase kedua yang berlangsungpada periode 1962-1966 Berne mulai menekankan pada permainan (game). Berne berminat pada teori komunikasi yang dapat memahami individu lewat dua pesan yaitu pesan psikologis secara terselubung (covert) dan pesan sosial yang sifatnya terbuka (overt).
   Pada fase ketiga (1966-1970) analisis traksaksional menjadi dominan karena analisis naskah (script analysis). Konsep ini seiring dengan terbitnya buku Berne tentang tritmen kelompok dan menjawab pertanyaan publik, mengapa individu yang berbeda memainkan permainan yang sama secara berulang-ulang. Teknik untuk menganalisis naskah sangat berguna bagi tritmen.

2.         Teori-teori Dasar
   Untuk memahami  kerangka berfikir analisis transaksional maka perlu mengtahui dasar filosofisnya. Analisis transaksional memandang manusia sebagai seusatu yang positif, karena manusia secara filosofis dapat dikembangkan dan diubah secra langsung melalui proses yang aman menggairahkan dan bahkan menyenangkan. Analisis transaksioanal berpandangan bhawa semua manusia OK, dan menyengakan dan memiliki potensi untuk berkembang dan mengaktulisasikan diri.
           
3.         Ego State (Status Ego).
           Menurut Eric Berne bahwa sumber-sumber tingkah laku, sikap dan perasaan, sebagaimana individu melihat kenyataan, mengolah informasi dan melihat dunia diluar dirinya diesbut dengan ego state ( status ego ). Status ego ini terbentuk melalui pengalaman masa kecil dirinya.
           Landasan pemikiran Berne (1961) tentang status ego berdasar pada tiga hipotesis :
1.         Bahwa setiap perkembangan menuju pada kedewasaan, melalui masa kanak-kanak.
2.         Bahwa setiap manusia mempunyai jaringan otak yang baik dan sanggup melakukan testing terhadap realita secara baik.
3.         Bahwa setiap individu yang berjuang untuk menuju ke dewasa telah mempunyai orangtua yang berfungsi atau seorang yang dianggap sebagai orang tuanya.
            
Dari ketiga hipotesis iti muncul pertanyaan bahwa :
A.        Pengalaman-pengalaman kehidupan pada msa kanak-kanak akan terus berlangsung dalam kehidupannya dan kemudian kan berujud sebagai status ego anak.
B.         Testing realitas merupakan fungsi status ego yang sifatnya realistis dan bukan merupakan kemampuan yang terpisah dan kemudian berujud sebagai status ego dewasa.
C.         Didalam pelaksanaannya kemungkinan sesuatu dari luar individu akan diambil alih secara sempurna oleh individu dan kemudian berujud ebagai status ego orang tua.

(a)        Status Ego Anak
Status ego anak, berisi perasaan, tingkah laku dan bagaiman berfikir ketika masih kanak-kanak. Hal ini dapat dilihat seperti tingkah laku manja, ingin menangnya sendiri, ingin diperhatikan, takut, pemberani, sembrono, bebas dan acuh.
Status ego anak dapat dilihat dari dua bentuk :
1.         Anak yang menyesuaikan (adapted child) diujudkan dengan tingkah laku yang dipengaruhi oleh orang tuanya. Hal ini dapat menyebabkan anak bertindak sesuai dengan keinginan orang tuanya seperti penurut, sopan, dan patuh, sebagai akibatnya anak akan menarik diri, takut, manja dan kemungkinan mengalami konflik.
2.         Anak yang wajar (free child) akan terlihat dalam tingkahlakunya seperti lucu, tergantung, menuntut egois, agresi, kritis, spontan, tidak mau kalah dan pemberontak.
(b)        Status Ego dewasa
Status ego dewasa dapat dilihat dari tingkahlaku yang bertanggung jawab, tindakan yang rasional, mandiri dan juga bersifat objektif.
(c)        Status Ego Orangtua
Status ego orangtua merupakan suatu kumpulan perasaan, sikap, pola-pola tingkahlaku yang mirip dengan bagaimana orangtua individu merasa dan bertingkahlaku terhadap dirinya.

Ada dua bentuk sikap orangtua :
1.         Mengkritik-merugikan (the critical parent) ditunjukkan dengan sikap yang selalu menuduh, mencela dan jika menerima dirasa tidak mengenakkan dan mencemaskan.
2.         (Sayang) merupakan suatu sikap yang positif, misalnya mendorong, memberi semangat, menerima, memberikan rasa aman, menghargai dan penuh perhatian.


2.2       Stroke (Belaian)
Model aslinya adalah bahwa orangtua yang secara fisik membelai bayinya. Dalam teori analisis transaksional sebuah belaian merupakan bagian dari suatu perhatian yang melengkapi stimulus yang optimal kepada individu.

2.3.      Life Position (posisi hidup)
Ada 4 dasar posisi hidup yaitu:
1.         I`m Ok – You`re OK. Posisi ini merefleksikan bahwa individu mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri dan percaya pada orang lain.
2.         I`m OK – You`re not Ok. Posisi ini merefleksikan bahwa individu membutuhkan orang lain akan tetapi tidak ada yang dianggap cocok, individu merasa mempunyai hak untuk mempergunakan orang lain untuk mencapai tujuan pribadinya. 
3.         I`m not Ok – You`re Ok. Posisi ini merefleksikan bahwa individu merasa tidak terpenuhi kebutuhannya dan merasa bersalah, bisanya juga disebut posisi depresif.
4.         I`m not Ok – you`re not OK. Posisi ini merefleksikan bahwa dirinya merasa tidak baik dan oranglain pun juga tidak baik, karena tidak ada sumber belaian yang positif.

2.4.      Batas Status Ego
Batas antara status ego yang satu dengan yang lain digambarkan sebagai membran yang sifatnya permiabel, sehingga dimungkinkan terjadinya aliran dari status ego yang satu ke ego yang lain dalam menanggapi rangsang dari luar.
2.4.1.   Batas Status Ego yang kaku
          Jika terjadi bahwa status ego menjadi kaku maka orang tersebut akan terkurung dalam salah stu status ego tertentu, yang akan menghambat berfungsinya salah satu status ego yang lain. Gejala ini disebut eklusi (exclusion).
          Eklusi pada dewasa, maka individu akan bertindak objektif, berfungsi sebagai perencana, mengumpulkan informasi, kehidupan interpersonalnya kering, dingin dan selalu realistis.
          Eklusi pada anak yang menyesuaikan, misalnya menjadi anak yang penurut, sopan, patuh, dan kalau anak yang wajar, jadi anak yang tergantung, penuntut, egois, agresi, kreatif dan spontan.
2.4.2.   Kontaminasi
           Kontaminasi merupakan suatu situasi dimana batas antara status ego yang satu dentan yang lain menjadi lemah, sehingga status ego tertentu mengalami pencemaran atau pengaruh dari status ego yang lain.

2.5 Analisis Transaksional
            Setiap apa yang dikerjakan dan apa yang dikatakan antara individu yang satu dengan individu lain. Transaksi dapat terjadi secara verbal (transaksi sosial) dan transaksi non verbal (transaksi psikologik) yang terjadi dalam transaksi terselubung.
            Ada tiga transaksi dalam kaitannya dengan interaksi antara dua individu, yaitu :
1.      Transaksi Komplementer (saling mengisi)
Transaksi ini dapat terjadi jika antara stimulus dengan respon cocok, tepat, dan memang diharapkan, sehingga transaksi ini akan berjalan dengan lancer. Misalnya, pembicaraan antara individu yang sama-sama menggunakan status ego orang tua.
2.      Transaksi Silang
Transaksi ini terjadi jika antara stimulus dan respon tidak cocok atau tidak sebagaimana yang diharapkan dan biasanya komunikasi ini atau interaksi ini akan terganggu.
3.      Transaksi Terselubung
Transaksi ini terjadi jika antara dua status ego beroperasi bersama-sama. Biasanya dapat dirasakan meliputi dewasa diarahkan kedewasa, akan tetapi menyembunyikan suatu pesan yang sebenarnya. Missalnya dewasa ke anak, atau orang tua keanak.

Bagan Transaksi Komplementer
1.     


wah sekarang untuk masuk sekolah sulitnya bukan main.
2.      Betul, saya kemarin beli formulir saja sudah susah.





Bagan Transaksi Silang
1.     











Aduh, badan ku kok terasa gk enak ya.
2.      Makanya jangan ambisi dan ngoyo cari uang.


















Bagan Transaksi Terselubung




 






1.      Jam berapa instirahatnya training ini ?
-          Jam 10:00 WIB
2.      Aku sudah ngantuk dan capai.
-          Kalau aku haus dan lapar.
 













          2.6              Kontak Sosial
Setiap manusia tampaknya membutuhkan kontak dengan lingkungannya,khususnya dengan sesame manusia, pada mulanya kontak terjadi secara fisik dan kemudian berkembang menjadi kontak yang sifatnya verbal. Kontak yang bersifat fisik ini dapat berupa belaian, ciuman dan ini semua akan memberikan rasa aman, kasih sayang, ada perasaan dicintai dan dibutuhkan, Kontak yang sifatnya verbal, seperti senyuman, penghargaan dan kata-kata positif. Proses ini semua melalui proses belajar, jika individu mendapatkan semua kontak yang positif, maka orang tersebut akan memberikan kontak positif pula baik pada orang lain maupun pada lingkungannya.
Menurut Berne (1961), Dusay (dalam Conrsini, 1989) individu dalam berhubungan dengan orang lain membutuhkan suatu struktur untuk mengatur waktu atau pengisi waktu. Dalam hal ini Berne mengajukan 6 cara penggunaan waktu, yaitu :
a.       Penarikan Diri (withdrawl)
Didalam bentuk ini individu sama sekali tidak mengadakan kontak dengan orang lain secara terbuka, meskipun secara fisik individu ada diantara teman-temannya.
b.      Tata cara (ritual)
Ini merupakan suatu bentuk komunikasi yang sudah diatur bagaimana stimulusnya dan bagaimana responnya.
c.       Aktifitas (activity)
Merupakan aktifitas dalam kehidupan sehari-hari dan pada umumnya telah ada ketentuan-ketentuan umum yang telah direncanakan. Dalam istilah sehari-hari disebut kerja.
d.      Pengisian Waktu (pastime)
Transaksi yang terjadi pada individu hanya merupakan pengisian waktu yang nampaknya setiap individu pernah melakukan transaksi ini.
e.       Permainan (games)
Permainan adalah serangkaian transaksi tersamar yang saling melengkapi, menuju suatu hasil yang dapat diramalkan dan telah direncanakan. Permainan mempunya dua ciri yang pertama sifatnya yang tersama/terselubung dan yang kedua ganjaran.
f.       Keakraban (intimacy)
Komunikasi terjadi secara sederhana, artinya individu akan menampilkan keadaan yang sebenarnya atau seadanya tanpa dibuat-buat.
                     
3.      Dasar dan Tujuan Terapi
Dasar tujuan dari analisis transaksional adalah membantu pihak klient dalam rangka membuat keputusan baru,  yaitu tentang tingkah lakunya sekarang yang diarahkan pada kehidupannya, caranya dengan jalan membantu klient untuk mendapatkan kesadaran tentang bagaimana klient menghadapi masalahnya yang berkaitan dengan kebebasan memilih dan memberikan pilihan untuk menentukan cara hidupnya.
Dasar dari terapi ini adalah mengganti cara hidup yang otomatis dengan kesadaran, spontanitas, dan keakraban dengan jalan memanipulasi permainan dan naskah hidup yang menyalahkan diri atau mengalah.
Harris (dalam Corey 1982) melihat bahwa tujuan dari analisis transaksional adalam membantu individu agar mempunyai kebebasan memilih, kebebasan untuk berubah deng berganti respon terhadap rangsangan baru.

4.      Fungsi dan Peranan Terapis
Transaksional dibuat agar supaya diperoleh insight baik emosional maupun intelektual, akan tetapi penekanannya pada aspek rasional. Peranan terapis adalah harus dapat memberikan perhatian yang benar pada hubungan yang terjadi antara terapis-klient secara kognitif. Peranan terapis dalam hal ini sebagai guru, pelatih, tetapi juga sebagai nara sumber.

5.      Proses Terapi
Proses terapi dalam pendekatan analisis transaksional terdiri dari beberapa metode, antara lain analisis struktural, metode belajar, empty chair,role playing, family modeling, analysis of ritual and past time,analysis of game dan rackets.
1.      Analisis struktural
Analisis structural adalah suatu cara yang dapat memjadikan individu sadar tentang isi dan fungsi dari status egonya (orang tua, dewasa, dan anak), didalam analisis transaksional klient belajar bagaimana mengidentifikasi status egonya.
2.      Metode belajar   
Analisis transaksional mendasarkan pada aspek kognitif, maka proses belajar mengajar merupakan dasar bagi pendekatannya. Anggota kelompok analisis transaksional diharapkan akan kenal  dengan analisis struktur dan menguasai dasar dari status ego orang tua, dewasa dan anak.
3.      Empty chair
Cara ini mangasumsikan bahwa klient mempunyai kesulitan dalam mengatasi dirinya dan pimpinannya. Klient disuruh untuk membayangkan bahwa orang yang duduk didepannya adalah orang lain, dan kemudian diajak untuk berdialog. Prosedur ini memberikan kebebasan pada klient untuk mengekspresikan pikiran, perasaan dan sikap nya sebagaimana dirinya berperan pada suatu status ego tertentu.
Mc Neel (dalam Corey, 1982) menggambarkan bahwa tekhnik dua kursi kosong ini merupakan alat yang sangat efektif dalam membantu klient menyelesaikan konfliknya dengan orang tua atau orang lain yang ada disekitarnya pada waktu klient dibesarkan. Tujuan dari tekhnik ini adalah untuk menyempurnakan unfinished bussines pada masa silam.
4.      Role Playing
Didalam terapi kelompok situasi-situasi didalam role playing dapat melibatkan anggota lain, kemungkinan yang terjadi anggota kelompok yang lain menggunakan status ego tertentu yang berkaitan dengan masalah dengan klient dank lien berbicara dengan anggota tersebut.
5.      Family Modelling
Didalam tekhnik ini klient disuruh untuk membayangkan yang melibatkan banyak individu, mungkin yang berhubungan dengan pengalaman masa lalu atau dirinya, misalnya dirinya sebagai direktur, produser, atau actor. Klien menetapkan situasi dengan menggunakan anggota lain dari kelompoknya sebagai anggota keluarga.
6.      Analysis Of Ritual and Past Time
Dalam analisis transaksional akan terlibat masalah identifikasi mengenai tatacara dan pengisi waktu, yang tampaknya dapat digunakan dalam menstruktur waktu. Struktur waktu ini sangat penting untuk didiskusikan dan diperiksa, karena hal ini merefleksikan bagaimana individu tersebut melakukan transaksi dan bagaimana untuk mendapatkan balaian yang tidak menguntungkan dan akibatnya akan mengalami kekurangan keakraban dengan orang lain.
7.      Analysis of Game and Rockets
Analisis permainan merupakan aspek penting dalam mengetahui transaksi yang sebenarnya dengan orang lain. Didalam hal ini perlu diobservasi dan diketahui bagaimana permainan dimainkan dan belaian apa yang diterima, bagaimana keadaan permainan itu, apakah ada jarak dan apa diiringi dengan keakraban.
                                        




Rabu, 11 November 2015

ANALISIS KEPRIBADIAN  SOE HOK GIE

    SOE HOK GIE lahir di Jakarta pada 17 Desember 1942. Ia adalah putra keempat dari keluarga penulis produktif Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Usia lima tahun adik Arief Budiman ini masuk sekolah Sin Hwa School, sekolah khusus untuk keturunan Tionghoa. Lulus SD ia meneruskan ke SMP Strada, kemudian ke SMA Kanisius, Jakarta, lalu ke Universitas Indoneisa Jurusan Sejarah. Mahasiswa Soe Hok Gie berperawakan kecil tapi bercita-cita besar.

    GIE sapaan akrab Soe Hok Gie meninggal bersama sahabatnya Idhan Danvantari Lubis digunung Semeru ketika melakukan pendakian kegunung Semeru tanggal 16 Desember 1969, saat itu Gie, Idhan dan sahabat-sahabat lainnya mendaki gunung Semeru, namun sayangnya Gie dan Idhan meninggal di Mahameru (puncak gunung Semeru) akibat menghirup gas beracun dari kawah gunung Semeru, 24 Desember 1969 Gie dimakamkan dipemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober Tanah Abang, sayangnya pada tahun 1975 Ali Sadikin (gubernur DKI pada saat itu) membongkar Pekuburan Kober dan jenazah Gie harus dipindahkan lagi, namun keluarga dan sahabat Gie menolak untuk memindahkan makam Gie, karna Gie pernah berpesan jika ia meninggal ia minta jenazahnya dibakar dan abunya dibuang digunung, akhirnya keluarga dan sahabtanya melakukan itu lalu abunya dibuang di gunung Pangrango.

    Almarhum Soe Hok Gie adalah salah satu tokoh penting mahasiswa. Ia termasuk salah satu tokoh kunci dalam sejarah munculnya angakatan ’66, suatu angkatan dalam sejarah gerakan kaum muda di Indonesia yang nyaris jadi legenda, sekaligus mitos. Soe Hok Gie sebagai bagian dari gelombang yang bergulung pada masa itu, juga banyak menulis dan membuat catatan-catatan di berbagai media masa. Tulisan-tulisannya yang tajam, menggigit dan seringkali sinis itu membuat rasa kemanusiaan setiap pembacanya seperti dirobek-robek, tahun-tahun antara 1967-1969 merupakan masa yang produktif bagi Soe Hok Gie. Pada saat itu yang terjadi  di Tanah air adalah periode transisional pada tingkat elit kekuasaan : Orde Lama ke Orde Baru.

    Sebuah hal yang menarik bagi saya untuk melakukan analisa kepribadian Gie,  kali ini saya akan melakukan analisa terhadap kepribadian Gie dengan menggunakan teori struktur kepribadian dari Gordon W. Allport. Struktur kepribadian menurut Allport ada 3, yaitu : Cardinal Trait, Central Trait, dan Secondary Trait.

    Cardinal Trait dari Gie adalah epic writer, hal ini karena Gie memang dikenal dari karya tulisannya, banyak karya tulisnya yang membuat para pembaca merasa terpukau, Gie juga aktif menulis diberbagai media cetak, banyak kalangan yang menganggap bahwa Gie adalah penulis yang cukup produktif, seperti yang disampaikan  Prof. Dr Harsja W.Bachtiar yang pada saat itu sebagai Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia “Soe Hok Gie adalah seorang cendikiawan yang ulung yang terpikat pada ide, pemikiran dan yang terus menerus menggunakan akal pikirannya untuk mengembangkan dan menyajikan ide-ide yang menarik perhatiannya. Tulisan-tulisannya menggugah hati pembaca, menjadikan mereka menyokong sepenuhnya pandangan-pandangan yang dikemukakannya atau membenci penulisnya yang berani mengatakan apa yang tidak berani dinyatakan oleh orang lain. Jarang ada pembaca yang tidak terpengaruh oleh tulisannya. Soe Hok Gie adalah seorang pemuda yang penuh cita-cita Dalam memperjuangkan  cita-citanya ia berani berkorban dan memang sering menjadi korban”. Selain itu sahabat Gie juga mengatakan “Gie itu punya kebiasaan nulis, kalau lagi digunung Gie suka sendiri sambil nulis"

    Gie juga dikenal senang sekali membuat catatan pribadi tentang apa yang dilakukannya dan tentang pikirannya, banyak catatan harian Gie dibuku kan, ada beberapa buku yang isinya adalah catatan harian dari Gie, salah satu buku yang berisi catatan harian Gie adalah Catatan Seorang Demonstran, didalam buku tersebut berisikan catatan harian Gie selama Gie aktif dari dunia pergerakan mahasiswa.

    Banyak puisi karya Gie yang buat saya pribadi cukup mengesankan terutama puisis-puisi yang bertemakan alam, salah satu puisi karya Gie yang bertemakan alam berjudul Mandalawangi, Mandalawangi adalah tempat padang Edelweis digunung Pangrango yang juga jadi tempat dibuangnya abu dari sisa pembakaran jenazah Gie, berikut adalah puisi hasil karya Gie yang berjudul Mandalawangi :

MANDALAWANGI – PANGRANGO

 

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurangmu

Aku datang kembali

Kedalam rimbaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna

Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan

Dan aku terima kau dalam keberadaanmu

Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, pangrango yang dingin dan sepi

Sungaimu adalah misteri segala cintamu dan cintaku adalah kebisuanmu semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti

Mandalawangi kau datang

Kau kembali

Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah keberanian, menghadapi yang tanda tanya tanpa kita mengerti, tanpa bisa kita menawar ‘terimalah dan hadapilah

Dan antara ransel kosong dan api unggun yang membara aku terima ini semua

Melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu

Aku cinta kepadamu pangrango

Karena aku cinta pada keberanian hidup

    Central Trait dari Gie adalah konsisten, hal ini ditunjukan Gie dalam gerakannya melakukan perlawanan terhadap pemerintah yang Gie anggap tidak berpihak pada rakyat kecil, banyak hal yang dilakukan Gie dalam melakukan perlawanan terhadap pemerintah, mulai dari membuat tulisan tentang pandangannya terhadap pemerintah yang terkesan sangat berani, Gie juga disebut-sebut sebagai pelopor dari gerakan unjuk rasa besar-besaran dari mahasiswa pada tahun 1966 yang menuntut Soekarno turun dari jabatannya sebagai Presiden RI seperti yang digambarkan pada film “Gie, Catatan Seorang Demonstran”.  Berbeda dengan beberapa temannya yang setelah aktif digerakan mahasiswa dalam melawan pemerintah lalu malah bergabung dengan pemerintah, Gie menganggap bahwa itu sebagai sebuah hal “Munafik” dan Gie tidak menyukai hal itu, padahal Gie yang pernah diundang untuk berdiskusi ke Istana oleh Soekarno sebanyak 5 kali pernah ditawari menjadi Mentri namun Gie menolaknya, akibat ketidak sukaannya Gie terhadap bergabungnya temen-temannya dengan pemerintah akhirnya Gie mulai ditinggalkan oleh teman-temannya, namun walaupun Gie mulai ditinggalkan teman-temannya karena sikapnya Gie sama sekali tidak merubah sikapnya terhadap pemerintah, Gie tetap aktif mengkritisi kinerja pemerintah pada saat itu, sampai akhirnya Gie mengelurkan sebuah pernyataan yang saya anggap cukup inspiratif “lebih baik diasingkan dari pada menyerah terhadap kemunafikan”.

    Konsistensi Gie dalam mengkritisi kinerja pemerintah sama sekali tidak goyah meski Gie sempat berpikir bahwa yang ia lakukan itu sia-sia, seperti yang tuliskan Arif Budiman (kakak Gie) dalam bukunya Gie mengatakan “Akhir-akhir ini saya selalu berfikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik pada banyak orang yang saya angap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik saya tidak merubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian”. Menurut Arif Budiman Dia (Gie) menulis kritik-kritik yang keras dikoran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama, dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai “Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang kenegerimu saja”. Ibu saya sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang.” Terhadap ibu ia Cuma tersenyum dan berkata, “Ah, Mama tidak mengerti.” Dan Gie meneruskan apa yang selama ini dilakukan yaitu mengkritisi kinerja pemerintah sampai akhir hidupnya.

     Secondary Trait dari Gie adalah petualang, karna Gie memiliki kebiasaan menghabiskan akhir pekannya kegunung, “Gie bareng sahabat-sahabatnya seperti Idhan, Herman Lantang, Prabowo Dll termasuk bareng gua suka naek gunung, apa lagi ke Pangrango itu kita sering banget”, cerita sahabat Gie. Selain itu Gie juga disebut-sebut sebagai salah satu pendiri dari MAPALA UI (Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia), bahkan Gie pada saat menghembuskan nafas terakhirnya pun digunung yaitu di gunung Semeru.