1. Definisi Normal
Menurut
WHO Normal adalah suatu keadaan fisik, mental dan kehidupan sosial yang lengkap
dan tidak semata-mata karena tidak adanya penyakit atau cacat atau luka.
Menurut
WFMH Normal adalah suatu keadaan yang optimal pada sisi intelektual, emosional
dan sosial serta tidak semata-mata adanya gangguan-gangguan mental, sepanjang
tidak mengganggu kepentingan lingkungannya, secara khusus, lingkungan sosial.
2. jenis- jenis gangguan
Jenis gangguan dapat diklasifikasikan
berdasarkan kondisi ego seseorang. Ada 3 fungsi ego yang tergolong terganggu,
yaitu :
a.
Ego yang lemah tapi masih utuh
Ego ini sangat rentan, baik terhadap tekanan dari luar maupun dorongan
dari dalam. Ego ini akan melahirkan neurosis (neurasteni ), yaitu adanya
“syaraf yang lemah”.
b.
Ego yang retak
Ego ini terpecah dalam bagian-bagian yang terpisahkan dalam otak,
akibatnya informasi dari satu bagian ke bagian lainnya berjalan
“meloncat-loncat/tidak nyambung”, seperti terjadi pada penderita skizofrenia.
Ego ini melahirkan psikosis, yaitu tidak sesuainya ransangan dan tanggapan.
c.
Ego bolong (pourous)
Ego bolong adalah adanya lubang
atau bolong ditempat-tempat tertentu
(otak). Ego ini ibarat seperti filter (penyaring) yang terdapat lubang sehingga apa yang di inginkan begitu saja
dinyatakan tanpa mempertimbangkan apa yang disetujui dan tidak disetujui oleh
lingkungan. Dengan demikian lahirlah perilaku psikopatis.
Dalam DSM – IV TR saat ini
terdapat lima aksis (sumbu) jenis gangguan
yang dua diantaranya menyangkut psikologi secara langsung, yaitu :
AKSIS 1. Disorder terdiri
atas :
A.
Disorder (gangguan) yang biasa mendapat
diagnosis :
1)
Pada anak –anak kecil (childhood), bayi, anak
kecil dan remaja;
2)
Delirium, dimensia, amnesia dan gangguan
kognitif lainnya;
3)
Kemampuan mental berhubungan umum dengan medis
yang tidak bisa diklasifikasikan pada hal lain;
4)
Gangguan yang berhubungan dengan bahan-bahan
(substansi) seperti narkoba dan alcohol;
5)
Skizofrenia dan gangguan psikotis lainnya;
6)
Gangguan perasaan (mood disorder) seperti
suasana hati manis-depresi;
7)
Gangguan kecemasan (anxiety disorder);
8)
Gangguan somatoform, yaitu gangguan jiwa yang
tampil dalam bentuk fisik;
9)
Gangguan factious;
10)
Gangguan disosiatif;
11)
Gangguan seksual & gender identity;
12)
Gangguan makan (eating disorder) seperti
anoreksia dan bulimia;
13)
Gangguan tidur (sleep disorder), seperti
insomnia;
14)
Gangguan pengendalian impuls yang tidak dapat
diklasifikasikan, seperti kleptomania (dorongan untuk mengambil milik orang
lain), dan suka pada api (piromania);
15)
Gangguan-gangguan penyesuaian.
B. menyangkut kepribadian
seperti paranoid, schizoid, obsessive, antisosial, compulsive, dan lain-lain.
#Klasifikasi gangguan berdasarkan PPDGJ III
Konsep gangguan jiwa yang diambil
dirujuk DSM IVsebagai berikut : Gangguan mental dikonsepsualisasikan sebagai
sindrom atau pola psikologis atau keprilakuan yang secara klinis signifikan
yang muncul dalam individual dan yang diasosiasikan dengan distress yang tampil
saat ini (misalnya simtom rasa sakit) atau ketidakmampuan (misalnya kelemahan
dalam satu atau lebih area pemfungsian yang penting) atau dengan peningkatan
risiko menderita kematian, kesakitan, ketidakmampuan, atau kehilangan kebebasan
yang penting.
Dari konsep gangguan jiwa diatas
terdapat 3 butir konsep penting;
1)
Adanya gejala klinis yang bermakna, berupa
sindrom pola perilaku dan pola psikogenik,
2)
Gejala tersebut menimbulkan penderitaan
(distress), berupa rasa nyeri, tidak nyaman, disfungsional organ tubuh dll.
3)
Gejala tersebut menimbulkan ketidakmampuan
(disabilility) dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, seperti mandi, makan,
berpakaian.
Adapun prinsip penggolongannya adalah :
1.
Pendekatan penggolongan bersifat ateoritik dan
deskriptif.
2.
Setiap gangguan jiwa tidak dianggap sebagai
suatu kesatuan yang tegas batas-batasnya, baik antara suatu jenis gangguan jiwa
dengan jenis gangguan jiwa lainnya, maupun antara gangguan jiwa dan jiwa yang
tidak terganggu.
3.
Penggolongan gangguan jiwa tidak diartikan atau
sama sekali bukan penggolongan orang.
4.
Dinilai tidak benar kalau ada anggapan bahwa dua
orang yang menderita gangguan jiwa yang sama dengan orang lainnya, berarti sama
dalam segala hal penting lainnya.
5.
Dalam PPDGJ – III terdapat istilah “kondisi lain
yang menjadi focus perhatian klinis”, yang tidak tergolong gangguan jiwa.
6.
Terdapat 100 kategori diagnosis, mulai dari F00
sampai dengan F98.
Adapun jenis-jenis gangguan mental lainnya
a. Skizofrenia.
Skizofrenia juga merupakan suatu bentuk
psikosa yang sering dijumpai dimana-mana sejak dahulu kala.Meskipun demikian
pengetahuan kita tentang sebab-musabab dan patogenisanya sangat kurang. Dalam
kasus berat, klien tidak mempunyai kontak dengan realitas, sehingga pemikiran
dan perilakunya abnormal. Perjalanan penyakit ini secara bertahap akan menuju kearah
kronisitas, tetapi sekali-kali bisa timbul serangan. Jarang bisa terjadi
pemulihan sempurna dengan spontan dan jika tidak diobati biasanya berakhir
dengan personalitas yang rusak ” cacat ”.
b. Depresi
Merupakan satu masa terganggunya
fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala
penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor,
konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh
diri. Depresi juga dapat diartikan sebagai salah satu bentuk gangguan kejiwaan
pada alam perasaan yang ditandai dengan kemurungan, keleluasaan, ketiadaan
gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lain sebagainya. Depresi
adalah suatu perasaan sedih dan yang berhubungan dengan penderitaan.Dapat
berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang
mendalam. Depresi adalah gangguan patologis terhadap mood mempunyai
karakteristik berupa bermacam-macam perasaan, sikap dan kepercayaan bahwa
seseorang hidup menyendiri, pesimis, putus asa, ketidak berdayaan, harga diri
rendah, bersalah, harapan yang negatif dan takut pada bahaya yang akan datang.
Depresi menyerupai kesedihan yang merupakan perasaan normal yang muncul sebagai
akibat dari situasi tertentu misalnya kematian orang yang dicintai. Sebagai
ganti rasa ketidaktahuan akan kehilangan seseorang akan menolak kehilangan dan
menunjukkan kesedihan dengan tanda depresi. Individu yang menderita suasana
perasaan (mood) yang depresi biasanya akan kehilangan minat dan kegembiraan,
dan berkurangnya energi yang menuju keadaan mudah lelah dan berkurangnya
aktifitas. Depresi dianggap normal terhadap banyak stress kehidupan dan
abnormal hanya jika ia tidak sebanding dengan peristiwa penyebabnya dan terus
berlangsung sampai titik dimana sebagian besar orang mulai pulih.
c. Kecemasan
Sebagai pengalaman psikis yang
biasa dan wajar, yang pernah dialami oleh setiap orang dalam rangka memacu
individu untuk mengatasi masalah yang dihadapi sebaik-baiknya. Suatu keadaan
seseorang merasa khawatir dan takut sebagai bentuk reaksi dari ancaman yang
tidak spesifik. Penyebabnya maupun sumber biasanya tidak diketahui atau tidak
dikenali. Intensitas kecemasan dibedakan dari kecemasan tingkat ringan sampai
tingkat berat.Menurut Sundeen (1995) mengidentifikasi rentang respon kecemasan
kedalam empat tingkatan yang meliputi, kecemasn ringan, sedang, berat dan
kecemasan panik.
d. Gangguan
Kepribadian
Klinik menunjukkan bahwa
gejala-gejala gangguan kepribadian (psikopatia) dan gejala-gejala neurosa
berbentuk hampir sama pada orang-orang dengan intelegensi tinggi ataupun
rendah. Jadi boleh dikatakan bahwa gangguan kepribadian, nerosa dan gangguan
intelegensi sebagaian besar tidak tergantung pada satu dan lain atau tidak
berkorelasi. Klasifikasi gangguan kepribadian: kepribadian paranoid,
kepribadian afektif atau siklotemik, kepribadian skizoid, kepribadian axplosif,
kepribadian anankastik atau obsesif-konpulsif, kepribadian histerik,
kepribadian astenik, kepribadian antisosial, Kepribadian pasif agresif,
kepribadian inadequate.
e. Gangguan Mental Organik
Merupakan gangguan jiwa yang
psikotik atau non-psikotik yang disebabkan oleh gangguan fungsi jaringan otak.
Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang
terutama mengenai otak atau yang terutama diluar otak. Bila bagian otak yang
terganggu itu luas , maka gangguan dasar mengenai fungsi mental sama saja,
tidak tergantung pada penyakit yang menyebabkannya bila hanya bagian otak
dengan fungsi tertentu saja yang terganggu, maka lokasi inilah yang menentukan
gejala dan sindroma, bukan penyakit yang menyebabkannya. Pembagian menjadi
psikotik dan tidak psikotik lebih menunjukkan kepada berat gangguan otak pada
suatu penyakit tertentu daripada pembagian akut dan menahun.
f. Gangguan
Psikosomatik
Merupakan komponen psikologik
yang diikuti gangguan fungsi badaniah. Sering terjadi perkembangan neurotik
yang memperlihatkan sebagian besar atau semata-mata karena gangguan fungsi
alat-alat tubuh yang dikuasai oleh susunan saraf vegetatif. Gangguan psikosomatik
dapat disamakan dengan apa yang dinamakan dahulu neurosa organ. Karena biasanya
hanya fungsi faaliah yang terganggu, maka sering disebut juga gangguan
psikofisiologik.
g. Retardasi Mental
Retardasi mental merupakan
keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama
ditandai oleh terjadinya hendaya keterampilan selama masa perkembangan,
sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh, misalnya
kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial.
h. Gangguan Perilaku
Masa Anak dan Remaja.
Anak dengan gangguan perilaku
menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan permintaan, kebiasaan atau
norma-norma masyarakat. Anak dengan gangguan perilaku dapat menimbulkan
kesukaran dalam asuhan dan pendidikan. Gangguan perilaku mungkin berasal dari
anak atau mungkin dari lingkungannya, akan tetapi akhirnya kedua faktor ini
saling memengaruhi. Diketahui bahwa ciri dan bentuk anggota tubuh serta sifat
kepribadian yang umum dapat diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Pada gangguan
otak seperti trauma kepala, ensepalitis, neoplasma dapat mengakibatkan
perubahan kepribadian.Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi perilaku anak,
dan sering lebih menentukan oleh karena lingkungan itu dapat diubah, maka
dengan demikian gangguan perilaku itu dapat dipengaruhi atau dicegah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar