Jumat, 05 Juni 2015

Jenis-Jenis Gangguan Psikologis


1. Definisi Normal
                Menurut WHO Normal adalah suatu keadaan fisik, mental dan kehidupan sosial yang lengkap dan tidak semata-mata karena tidak adanya penyakit atau cacat atau luka.
                Menurut WFMH Normal adalah suatu keadaan yang optimal pada sisi intelektual, emosional dan sosial serta tidak semata-mata adanya gangguan-gangguan mental, sepanjang tidak mengganggu kepentingan lingkungannya, secara khusus, lingkungan sosial.

2. jenis- jenis gangguan
Jenis gangguan dapat diklasifikasikan berdasarkan kondisi ego seseorang. Ada 3 fungsi ego yang tergolong terganggu, yaitu :
a.       Ego yang lemah tapi masih utuh
Ego ini sangat rentan, baik terhadap tekanan dari luar maupun dorongan dari dalam. Ego ini akan melahirkan neurosis (neurasteni ), yaitu adanya “syaraf yang lemah”.
b.      Ego yang retak
Ego ini terpecah dalam bagian-bagian yang terpisahkan dalam otak, akibatnya informasi dari satu bagian ke bagian lainnya berjalan “meloncat-loncat/tidak nyambung”, seperti terjadi pada penderita skizofrenia. Ego ini melahirkan psikosis, yaitu tidak sesuainya ransangan dan tanggapan.
c.       Ego bolong (pourous)
 Ego bolong adalah adanya lubang atau bolong  ditempat-tempat tertentu (otak). Ego ini ibarat seperti filter (penyaring) yang terdapat lubang  sehingga apa yang di inginkan begitu saja dinyatakan tanpa mempertimbangkan apa yang disetujui dan tidak disetujui oleh lingkungan. Dengan demikian lahirlah perilaku psikopatis.

       Dalam DSM – IV TR saat ini terdapat lima aksis (sumbu) jenis gangguan  yang dua diantaranya menyangkut psikologi secara langsung, yaitu :
       AKSIS 1. Disorder terdiri atas :
A.      Disorder (gangguan) yang biasa mendapat diagnosis :
1)      Pada anak –anak kecil (childhood), bayi, anak kecil dan remaja;
2)      Delirium, dimensia, amnesia dan gangguan kognitif lainnya;
3)      Kemampuan mental berhubungan umum dengan medis yang tidak bisa diklasifikasikan pada hal lain;
4)      Gangguan yang berhubungan dengan bahan-bahan (substansi) seperti narkoba dan alcohol;
5)      Skizofrenia dan gangguan psikotis lainnya;
6)      Gangguan perasaan (mood disorder) seperti suasana hati manis-depresi;
7)      Gangguan kecemasan (anxiety disorder);
8)      Gangguan somatoform, yaitu gangguan jiwa yang tampil dalam bentuk fisik;
9)      Gangguan factious;
10)   Gangguan disosiatif;
11)   Gangguan seksual & gender identity;
12)   Gangguan makan (eating disorder) seperti anoreksia dan bulimia;
13)   Gangguan tidur (sleep disorder), seperti insomnia;
14)   Gangguan pengendalian impuls yang tidak dapat diklasifikasikan, seperti kleptomania (dorongan untuk mengambil milik orang lain), dan suka pada api (piromania);
15)   Gangguan-gangguan penyesuaian.
B. menyangkut kepribadian seperti paranoid, schizoid, obsessive, antisosial, compulsive, dan lain-lain.
#Klasifikasi gangguan berdasarkan PPDGJ III
Konsep gangguan jiwa yang diambil dirujuk DSM IVsebagai berikut : Gangguan mental dikonsepsualisasikan sebagai sindrom atau pola psikologis atau keprilakuan yang secara klinis signifikan yang muncul dalam individual dan yang diasosiasikan dengan distress yang tampil saat ini (misalnya simtom rasa sakit) atau ketidakmampuan (misalnya kelemahan dalam satu atau lebih area pemfungsian yang penting) atau dengan peningkatan risiko menderita kematian, kesakitan, ketidakmampuan, atau kehilangan kebebasan yang penting.
Dari konsep gangguan jiwa diatas terdapat 3 butir konsep penting;
1)      Adanya gejala klinis yang bermakna, berupa sindrom pola perilaku dan pola psikogenik,
2)      Gejala tersebut menimbulkan penderitaan (distress), berupa rasa nyeri, tidak nyaman, disfungsional organ tubuh dll.
3)      Gejala tersebut menimbulkan ketidakmampuan (disabilility) dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, seperti mandi, makan, berpakaian.
Adapun prinsip penggolongannya adalah :
1.       Pendekatan penggolongan bersifat ateoritik dan deskriptif.
2.       Setiap gangguan jiwa tidak dianggap sebagai suatu kesatuan yang tegas batas-batasnya, baik antara suatu jenis gangguan jiwa dengan jenis gangguan jiwa lainnya, maupun antara gangguan jiwa dan jiwa yang tidak terganggu.
3.       Penggolongan gangguan jiwa tidak diartikan atau sama sekali bukan penggolongan orang.
4.       Dinilai tidak benar kalau ada anggapan bahwa dua orang yang menderita gangguan jiwa yang sama dengan orang lainnya, berarti sama dalam segala hal penting lainnya.
5.       Dalam PPDGJ – III terdapat istilah “kondisi lain yang menjadi focus perhatian klinis”, yang tidak tergolong gangguan jiwa.
6.       Terdapat 100 kategori diagnosis, mulai dari F00 sampai dengan F98.


Adapun jenis-jenis gangguan mental lainnya
a. Skizofrenia.
 Skizofrenia juga merupakan suatu bentuk psikosa yang sering dijumpai dimana-mana sejak dahulu kala.Meskipun demikian pengetahuan kita tentang sebab-musabab dan patogenisanya sangat kurang. Dalam kasus berat, klien tidak mempunyai kontak dengan realitas, sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal. Perjalanan penyakit ini secara bertahap akan menuju kearah kronisitas, tetapi sekali-kali bisa timbul serangan. Jarang bisa terjadi pemulihan sempurna dengan spontan dan jika tidak diobati biasanya berakhir dengan personalitas yang rusak ” cacat ”.
b. Depresi
Merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri. Depresi juga dapat diartikan sebagai salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan yang ditandai dengan kemurungan, keleluasaan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lain sebagainya. Depresi adalah suatu perasaan sedih dan yang berhubungan dengan penderitaan.Dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang mendalam. Depresi adalah gangguan patologis terhadap mood mempunyai karakteristik berupa bermacam-macam perasaan, sikap dan kepercayaan bahwa seseorang hidup menyendiri, pesimis, putus asa, ketidak berdayaan, harga diri rendah, bersalah, harapan yang negatif dan takut pada bahaya yang akan datang. Depresi menyerupai kesedihan yang merupakan perasaan normal yang muncul sebagai akibat dari situasi tertentu misalnya kematian orang yang dicintai. Sebagai ganti rasa ketidaktahuan akan kehilangan seseorang akan menolak kehilangan dan menunjukkan kesedihan dengan tanda depresi. Individu yang menderita suasana perasaan (mood) yang depresi biasanya akan kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya energi yang menuju keadaan mudah lelah dan berkurangnya aktifitas. Depresi dianggap normal terhadap banyak stress kehidupan dan abnormal hanya jika ia tidak sebanding dengan peristiwa penyebabnya dan terus berlangsung sampai titik dimana sebagian besar orang mulai pulih.
 c. Kecemasan
Sebagai pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang pernah dialami oleh setiap orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah yang dihadapi sebaik-baiknya. Suatu keadaan seseorang merasa khawatir dan takut sebagai bentuk reaksi dari ancaman yang tidak spesifik. Penyebabnya maupun sumber biasanya tidak diketahui atau tidak dikenali. Intensitas kecemasan dibedakan dari kecemasan tingkat ringan sampai tingkat berat.Menurut Sundeen (1995) mengidentifikasi rentang respon kecemasan kedalam empat tingkatan yang meliputi, kecemasn ringan, sedang, berat dan kecemasan panik.
 d. Gangguan Kepribadian
Klinik menunjukkan bahwa gejala-gejala gangguan kepribadian (psikopatia) dan gejala-gejala neurosa berbentuk hampir sama pada orang-orang dengan intelegensi tinggi ataupun rendah. Jadi boleh dikatakan bahwa gangguan kepribadian, nerosa dan gangguan intelegensi sebagaian besar tidak tergantung pada satu dan lain atau tidak berkorelasi. Klasifikasi gangguan kepribadian: kepribadian paranoid, kepribadian afektif atau siklotemik, kepribadian skizoid, kepribadian axplosif, kepribadian anankastik atau obsesif-konpulsif, kepribadian histerik, kepribadian astenik, kepribadian antisosial, Kepribadian pasif agresif, kepribadian inadequate.
e. Gangguan Mental Organik                     
Merupakan gangguan jiwa yang psikotik atau non-psikotik yang disebabkan oleh gangguan fungsi jaringan otak. Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama mengenai otak atau yang terutama diluar otak. Bila bagian otak yang terganggu itu luas , maka gangguan dasar mengenai fungsi mental sama saja, tidak tergantung pada penyakit yang menyebabkannya bila hanya bagian otak dengan fungsi tertentu saja yang terganggu, maka lokasi inilah yang menentukan gejala dan sindroma, bukan penyakit yang menyebabkannya. Pembagian menjadi psikotik dan tidak psikotik lebih menunjukkan kepada berat gangguan otak pada suatu penyakit tertentu daripada pembagian akut dan menahun.
 f. Gangguan Psikosomatik
Merupakan komponen psikologik yang diikuti gangguan fungsi badaniah. Sering terjadi perkembangan neurotik yang memperlihatkan sebagian besar atau semata-mata karena gangguan fungsi alat-alat tubuh yang dikuasai oleh susunan saraf vegetatif. Gangguan psikosomatik dapat disamakan dengan apa yang dinamakan dahulu neurosa organ. Karena biasanya hanya fungsi faaliah yang terganggu, maka sering disebut juga gangguan psikofisiologik.
 g. Retardasi Mental
Retardasi mental merupakan keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh terjadinya hendaya keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh, misalnya kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial.
 h. Gangguan Perilaku Masa Anak dan Remaja.
Anak dengan gangguan perilaku menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan permintaan, kebiasaan atau norma-norma masyarakat. Anak dengan gangguan perilaku dapat menimbulkan kesukaran dalam asuhan dan pendidikan. Gangguan perilaku mungkin berasal dari anak atau mungkin dari lingkungannya, akan tetapi akhirnya kedua faktor ini saling memengaruhi. Diketahui bahwa ciri dan bentuk anggota tubuh serta sifat kepribadian yang umum dapat diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Pada gangguan otak seperti trauma kepala, ensepalitis, neoplasma dapat mengakibatkan perubahan kepribadian.Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi perilaku anak, dan sering lebih menentukan oleh karena lingkungan itu dapat diubah, maka dengan demikian gangguan perilaku itu dapat dipengaruhi atau dicegah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar